PIAGAM
GUMI SASAK :
Sebagai Identitas Suku Sasak
Sebagai Identitas Suku Sasak
Seiring dengan
perkembangan zaman, kebudayaan umat manusia pun terus mengalami perubahan. Tidak dapat
dipungkiri juga, Sasak yang dulunya
kental dengan tradisi, adat istiadat, dan budaya yang telah diwariskan oleh nenek
moyang suku Sasak sedikit demi sedikit
terus mengalami pergeseran, sehingga nilai-nila keaslian atau nilai leluhur
dari kebudayaan yang dulu sudah mengalami perubahan, bahkan banyak masyarakat Sasak sudah memandang buruk budaya sendiri. Berangkat dari permasalahan itu, para intelktual Sasak baik muda maupun tua
terus berfikir tentang cara untuk mengembalikan Sasak yang dulu. Proses pemikiran dan diskusi yang panjang sehingga
terciptalah sebuah dokumen yang merupakan identitas suku Sasak yang di kenal
dengan nama piagam gumi Sasak.
Menurut salah satu
tokoh budaya, Drs. HL. Agus Fathurrahman mengemukakan bahwa Piagam gumi Sasak merupakan sebuah dokumen yang berisi kesepakatan bersama
untuk membangun, menyatukan, menegakan kembali kebudayaan Sasak berdasarkan landasan yang sebenarnya. Piagam gumi Sasak sebenarnya adalah pengadaan
sikap yang memiliki dasar, berangkat dari
kegelisahan yang dirasakan sebagain
besar masyarakat sasak tentang identitas
kebudayaanya( L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd). Hal itu memang sangat wajar
karena di tengah kepungan masyarakat dunia
yang semakin terbuka tanpa batas ini, identitas
seseorang atau sekelompok orang
akan sangat mudah dipengarauhi oleh
nilai-nilai yang buruk, tidak dapat di pungkiri lambat laun budaya Sasak juga
akan ikut terpengaruh oleh hal itu.
Piagam Gumi Sasak ini Lahir
dari diskusi yang panjang dari beberapa intelektual sasak yang memiliki
perspektif budaya ke depan, dalam diskusi yang panjang ini terjadilah berbagai
bentuk kajian yang panjang dan inilah yang menjadi tonggak awal lahirnya piagam
gumi sasak. Setelah perjalanan kajian yang panjang, kira-kira pada tanggal 17 Agustus 2015 diadakan acara launching buku yg berjudul “Membaca Arsiktektur Sasak” karya
Drs. HL. Agus Fathurrahman, buku inilah yg menjadi awal kesadaran dari
tokoh-tokoh intelektual Sasak, bahwa suku Sasak memililiki khzasanah ilmu
pengetahuan dan peradaban yang tinggi sejak masa lalu. Sebelumnya para pakar
budaya Sasak sudah menghasilkan satu monumen peradaban yaitu kajian astronomi tradisi yang melahirkan sistem penanggalan Sasak yang
dikenal dengan Kalender Rowot Sasak pada tahun 2014.
Kalender Rowot Sasak adalah
kalender masa atau kalender musim yang menggunakan sistem bintang sebagai
perhitunganya, orang sasak menyebutnya dengan nama bintang rowot, istilah astronominya
adalah bintang playdes yang berada tepat pada rasi bintang taurus. Kalender rowot ini
menggunakan tiga sistem yaitu sistem solar,lunar, dan bintang karena
para pakar menyelaraskannya dengan kalender solar (matahari) dan lunar (bulan). Dari situlah kesadaran
para pakar budaya bahwa Sasak
memiliki khzanah intelektual, khazanah budaya yang sejak masa lalu memiliki
kajian-kajian yang sifatnya ilmu pengetahuan. Namun, Para pakar belum bisa
menemukan titik nol dari kalender rowot sasak, sehingga belum bisa dipastikan
sudah berapa tahun Sasak terbentuk, ini masaih dalam kajian. Tetapi para
intelektual Sasak telah menemukan satu
tahapan peradaban yang sudah sangat panjang yaitu dalam penelitian
arsiktektur “ lumbung” dengan usia 3500 tahun
SM, ini menunjukan bahwa peradaban sasak ini sudah sangat tua.
Konsep awal Piagam Gumi
Sasak ini dibuat oleh Drs. HL. Agus
Fathurrahman dengan judul awal “Manifesto Kebudayaan” yang dipersiapakn untuk launching
tanggal 26 Desember 2015. Sejak Itu, dari bulan Agustus
hingga November Manifesto Kebudayaan ini
terus didiskusikan. Pada awal Desember naskah Manifesto Kebudayaan Sasak selesai, kemudian dilaksanakan
kembali diskusi untuk menanta isa dari
Manifesto Kebudayan ini, yang hadir ikut terlibat pada waktu itu yaitu Drs. HL.
Agus Fathurrahman (sebagai pembuat konsep awal), Dr. Muhammad Fadjri, M.A. (seorang
sejarahwan NTB), Dr. H. Sudirman, M. Pd., Murahim S. Pd., M. Pd, Syahrul Qodri, S. Pd., M.A. inilah yang
menjadi penggodok awal dari Menifesto Kebudayaan. Kemudian Dr. Muhammad Fadjri,
M.A mengusulkan pengantian nama Manifesto Kebudayaan dengan nama Piagam Gumi
Sasak, dengan latar belakang adanya Piagam Madinah pada waktu itu lahir untuk menyatukan kaum
muslim yaitu kaum Nasrani maupun kaum Yahudi
yang ada di kota madinah, piagam ini dijadikan sebagai sebuah sistem sosial untuk membangun kota Madinah. Hal
itulah alasan dari pengusulan nama
Piagam Gumi Sasak karena pada dasarnya sama nilainya, sehingga ditetapkanlah
dengan nama Piagam Gumi Sasak. Kemudian pada tanggl 26 Desember 2015 naskah ini
dibacakan untuk pertama kalinya dalam launching kalender rowet Sasak tahun
2015, kalender ke dua yang kalender
pertama pada tahun 2014. Atas dasar itulah tanggak 26 Desember ditetapkan
sebagai harai peluncuran Kalender Rowot
Sasak, termasuk tahun ini dengan acara tambahan atau acara pokok yaitu “Forum
Ilmiah Sejarah Sasak” yang bicara tentang menjawab histiografi luar tentang
Sasak.
Isi
Piagam Gumi Sasak
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Menjadi
bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT
dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan
matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam
pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan
tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang
sebenarnya.
Perjalanan
sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai
bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya
Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri,
sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih
berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang
ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern.
Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak
di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya
sebagai sebuah bangsa.
Sadar
akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK
sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang
bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan
kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang
bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa
Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai
dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang
bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya
kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung
tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang
bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat
untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang
bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan
berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga
Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa
Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H
26 Desember 2015
Penandatangan dalam Piagam Gumi Sasak:
1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz, M.A. Ph.D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin, M.Ag.
8. Dr. H. A. Muhit Ellepaki, M.Sc.
9. Dr. Lalu Abd. Khalik, M.Hum.
10. Dr. H. Sudirman, M.Pd.
11. Dr. HL. Agus Fathurrahman
12. Mundzirin, S.H.
13. Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H
26 Desember 2015
Penandatangan dalam Piagam Gumi Sasak:
1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz, M.A. Ph.D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin, M.Ag.
8. Dr. H. A. Muhit Ellepaki, M.Sc.
9. Dr. Lalu Abd. Khalik, M.Hum.
10. Dr. H. Sudirman, M.Pd.
11. Dr. HL. Agus Fathurrahman
12. Mundzirin, S.H.
13. Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd.
Nara sumber :
1. Drs. HL. Agus Fathurrahman ( Pembuat konsep awal)
2. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd. ( Direktur Rowot Nusantara Lombok)
Bukti Wawancara:






